Di Balik Diplomasi Iran-Oman, Perpecahan di Dalam Rezim Mengancam Selat Hormuz

Ramli Nur

TEHERAN – Di balik pembicaraan diplomatik yang berlangsung di Muscat, ada perang internal yang lebih besar yang mengancam stabilitas Selat Hormuz! Iran dan Oman memang duduk bersama membahas pengelolaan pelayaran di jalur perairan strategis tersebut, tetapi di dalam negeri Iran sendiri, pertarungan kekuasaan sedang memanas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa pembicaraan yang berlangsung Sabtu (11/7/2026) di Muscat dihadiri delegasi hukum dan teknis dari kedua negara. Mereka bertukar pandangan tentang keamanan Selat Hormuz sesuai hukum internasional dan MoU antara AS dan Iran.

"Republik Islam Iran menekankan bahwa pengaturan di masa mendatang untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz harus dilakukan melalui konsultasi antara kedua negara pesisir," demikian pernyataan resmi Iran.

Namun, di balik diplomasi, ada perpecahan tajam di dalam rezim Iran! Kenneth Katzman, peneliti senior di The Soufan Center, mengungkapkan bahwa Komandan IRGC dan kelompok garis keras memiliki agenda berbeda dengan kepemimpinan sipil.

"Para komandan utama IRGC mengendalikan selat tersebut, tidak hanya itu, tetapi juga membalas dendam atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei," kata Katzman kepada Al Jazeera. "Mereka ingin memastikan AS tidak akan pernah menyerang Iran lagi."

Katzman menambahkan bahwa serangan terbaru terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz adalah bukti nyata perpecahan ini. "Menteri Luar Negeri Araghchi pergi ke Oman untuk mencoba mencapai kompromi, dan dia telah membuat beberapa kemajuan. Kemudian IRGC menyerang kapal Siprus ini dan memicu babak pertempuran lainnya," jelasnya.

AS pun tak tinggal diam. Katzman menegaskan bahwa AS tidak akan mengalah dalam hal Selat Hormuz. "Merupakan kepentingan vital AS agar selat tersebut tetap terbuka."

Ia memperingatkan bahwa jika faksi garis keras Iran terus menekan, AS akan melakukan eskalasi yang sangat substansial. "Ini tidak akan diselesaikan melalui putaran pembicaraan lain di Swiss atau Qatar. Ini adalah masalah yang jauh lebih besar yang kemungkinan akan membutuhkan eskalasi AS yang jauh lebih besar untuk mengendalikannya," pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar