5 Alasan AS Gagal Tuntaskan Perang Iran: Salah Perhitungan hingga Dukungan Publik Luntur
WASHINGTON – Perang Amerika Serikat melawan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Alih-alih meraih kemenangan cepat seperti yang diperkirakan sebagian kalangan di Washington, konflik justru berubah menjadi perang berkepanjangan yang menguras sumber daya, mengguncang pasar energi global, dan memperluas instabilitas di Timur Tengah.
Laporan AP yang merangkum analisis sejumlah lembaga riset dan analis pertahanan menyatakan bahwa lambatnya penyelesaian perang bukan semata-mata karena kekuatan militer Iran, tetapi juga akibat kompleksitas strategi, politik, hingga kondisi geografis republik Islam yang membuat operasi militer Washington jauh lebih sulit dari perkiraan awal.
AS Salah Perhitungan: Iran Tidak Bisa Dikalahkan dengan Serangan Udara Saja
Menurut analisis Washington Institute, salah satu kesalahan terbesar dalam kalkulasi awal AS adalah menganggap Iran dapat dikalahkan melalui serangan udara besar-besaran. Meski banyak fasilitas militer Iran mengalami kerusakan akibat serangan AS dan Israel, kemampuan tempur Teheran tidak sepenuhnya lumpuh.
Iran selama puluhan tahun membangun strategi perang asimetris menghindari pertempuran frontal dan mengandalkan rudal balistik, drone, serangan siber, serta jaringan milisi di berbagai negara.
Jaringan Proksi Iran Masih Aktif di Banyak Front
Berbeda dengan perang melawan satu negara, AS juga harus menghadapi jaringan kelompok bersenjata yang didukung Iran. Kelompok proksi seperti Houthi di Yaman, berbagai milisi di Irak, hingga unsur bersenjata lain di kawasan Timur Tengah terus membuka front baru.
Serangan terhadap pangkalan AS maupun jalur pelayaran membuat Washington harus membagi perhatian dan sumber daya. Akibatnya, konflik tidak hanya berlangsung di wilayah Iran, tetapi meluas ke Laut Merah, Teluk Persia, Irak, Suriah, hingga Yordania.
Tujuan Perang AS: Terlalu Banyak dan Kurang Jelas
Sejumlah analis menilai Washington sendiri belum memiliki tujuan akhir yang benar-benar konsisten. Di awal perang, berbagai pejabat AS menyampaikan tujuan yang berbeda-beda, mulai dari menghancurkan program rudal Iran, mencegah pengembangan senjata nuklir, melindungi sekutu, hingga mendorong perubahan rezim di Teheran.
Council on Foreign Relations (CFR) menilai perang Iran memperlihatkan bagaimana banyak asumsi awal kebijakan AS ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
Medan Geografi Iran Sulit Didominasi
Iran bukan negara kecil dengan infrastruktur militer yang mudah dihancurkan. Wilayahnya mencapai sekitar 1,65 juta kilometer persegi, didominasi pegunungan, gurun luas, serta fasilitas militer yang banyak berada di bawah tanah atau tersebar di berbagai lokasi.
Para pakar Atlantic Council menilai perang ini menunjukkan bahwa dominasi udara tidak selalu cukup untuk memaksa lawan menyerah apabila lawan memiliki kemampuan bertahan yang terdesentralisasi dan tetap mampu melancarkan serangan balasan.
Dukungan Publik Dalam Negeri AS Menurun
Perang yang semakin lama berlangsung juga meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump. Korban militer AS yang hingga kini mencapai 18 personel, kenaikan harga energi, serta belum jelasnya akhir perang mulai mengurangi dukungan masyarakat.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga Amerika yang masih mendukung perang tersebut. Mayoritas responden bahkan menilai pemerintah belum mampu menjelaskan secara jelas tujuan akhir operasi militer di Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Juni lalu mengatakan "perang telah berakhir," namun faktanya konflik masih membara. Bahkan Senat AS masih memperdebatkan kewenangan Presiden Trump untuk melanjutkan perang, bukti bahwa perang ini belum benar-benar selesai.