Nadia Murad: 12 Tahun Setelah Genosida Yazidi, Keadilan Masih Terlalu Lambat bagi Para Korban

Nadia Murad Basee, wanita Yazidi Irak mantan korban perbudakan seksual oleh ISIS.

JENEWA – Sudah 12 tahun berlalu sejak milisi Islamic State (ISIS) melakukan genosida terhadap komunitas Yazidi di Irak, namun keadilan masih terasa sangat jauh. Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Nadia Murad Basee, menegaskan bahwa upaya internasional untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku berjalan terlalu lambat.

Pada 2014, ISIS merebut sebagian wilayah Irak dan Suriah, termasuk tanah leluhur Yazidi di Sinjar. Ribuan pria dibunuh, sementara perempuan dan anak-anak dijadikan budak seks. Penyelidik PBB kemudian mengonfirmasi bahwa tindakan tersebut merupakan genosida terhadap minoritas agama berbahasa Kurdi itu.

"Setelah selamat, banyak dari mereka memutuskan untuk menggunakan suara mereka untuk memperjuangkan keadilan bagi komunitas kami," kata Murad dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (31/7/2026).

Namun, perjuangan itu belum berakhir. "Banyak dari mereka masih memiliki anggota keluarga yang ditawan. Orang-orang terkasih mereka yang terbunuh belum diidentifikasi dan dikembalikan," ujar Murad, yang pernah menjadi korban perbudakan seksual oleh ISIS sebelum menjadi advokat terkemuka bagi para penyintas Yazidi.

"Kami memiliki orang-orang terkasih di kamp-kamp pengungsian," imbuhnya.

Murad menyoroti bahwa upaya internasional untuk menuntut pelaku berjalan sangat lambat, membuat banyak keluarga terus menunggu dalam ketidakpastian.

"Selama 12 tahun kami telah mengulang masalah yang sama: tentang perempuan dan anak-anak yang hilang; tentang jenazah yang harus diidentifikasi; tentang orang-orang Yazidi yang dapat kembali ke rumah, dan tentang keadilan yang harus ditegakkan bagi para penyintas," katanya.

"Kemajuan telah dicapai, tetapi sangat lambat. Dan bagi banyak keluarga, ini adalah siksaan, karena mereka masih menunggu setiap hari di tenda-tenda, banyak yang masih dalam penahanan," paparnya.

"Pencegahan dimulai dengan keadilan dan pertanggungjawaban dan itulah tujuan kita semua di sini," imbuh Murad.

Mantan tawanan ISIS lainnya, Khawa Ali, menambahkan bahwa beberapa milisi bahkan telah kembali ke Eropa dan kini "berkeliaran bebas" sementara para korban terus hidup dalam ketakutan. Ia menyambut baik vonis pengadilan Belgia tahun lalu terhadap milisi ISIS yang menahannya sebagai tawanan.

"Pesan saya hari ini adalah kami berharap keadilan akan ditegakkan dan komunitas internasional akan terus melakukan persidangan," katanya.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar