IRGC Ancam Ubah Geografi Perang Jika AS Serang Iran Lagi: Dunia Akan Terkejut
TEHERAN — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Jika AS melancarkan serangan baru terhadap Iran, Teheran mengancam akan mengubah persenjataan dan "geografi perang" sebuah sinyal bahwa konflik tidak akan berjalan dengan pola yang sama seperti sebelumnya.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohibi, menyampaikan pernyataan itu dalam program televisi pada Minggu malam (20/9/2026).
"Jika serangan baru terjadi, operasi pertahanan dan ofensif kami akan berubah secara signifikan. Kami akan mengubah persenjataan dan geografi perang, serta mengerahkan kemampuan dan kapasitas baru ke medan laga. Dunia akan terkejut," ujar Mohibi.
Mohibi menjelaskan bahwa target Iran tidak lagi sama seperti sebelumnya. "Target kami bukan lagi target yang sama seperti sebelumnya. Kami telah mengidentifikasi target-target baru yang belum pernah diserang," tegasnya.
Ia juga menegaskan Iran siap menghadapi perang jangka panjang. "Perang memiliki tahapan-tahapan yang berbeda. Perang tidak berakhir begitu saja, melainkan terus berlanjut. IRGC sebelumnya sudah siap untuk perang, dan kini kami bahkan lebih siap lagi," tambahnya.
Mohibi menegaskan IRGC tidak menjalin komunikasi dengan AS, dan angkatan bersenjata Iran tidak melakukan diplomasi. "Misi utama militer adalah mempertahankan negara," katanya.
Ia juga mengklaim dominasi AS di kawasan telah berakhir, dan Iran bukan Washington yang sedang membentuk tatanan baru di kawasan itu.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS terkait Selat Hormuz. Kedua negara masih berselisih mengenai navigasi di jalur perairan strategis yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima konsumsi minyak global sebelum perang pecah.
AS dan Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran pada 28 Februari, menyasar gedung-gedung pemerintah, situs militer, infrastruktur rudal, dan pertahanan udara. Iran membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terhadap Israel serta pangkalan-pangkalan AS di seluruh kawasan.
Perang sempat terhenti akibat gencatan senjata pada April, dan nota kesepahaman ditandatangani pada Juni untuk mencapai kesepakatan damai final dalam waktu 60 hari. Namun, kesepakatan itu gagal beberapa minggu kemudian. Meski demikian, upaya mengakhiri konflik terus dilakukan melalui mediator Pakistan dan Qatar.