Mayor Jason Watson, Perwira AS yang Berdiri Sendirian di Capitol Demi Serukan Pemakzulan Trump

WASHINGTON — Di tangga Gedung Capitol, seorang pria berdiri sendirian dalam balutan seragam militer Angkatan Udara Amerika Serikat. Tangannya menggenggam papan bertuliskan tiga kata: "Impeach, Convict, Remove"  makzulkan, nyatakan bersalah, copot dari jabatan.

Sosok itu adalah Mayor Jason Watson, perwira aktif yang telah menjalani sekitar 17 tahun masa dinas. Pada 1 Juli 2026, ia datang ke Capitol Hill dan secara terbuka menyerukan pemakzulan Presiden Donald Trump serta Wakil Presiden JD Vance.

Aksi itu bukan demonstrasi biasa. Watson melakukannya dalam seragam dinas, meski mengetahui aturan militer AS membatasi aktivitas politik personel aktif terutama saat mengenakan seragam. Tak lama setelah berdiri, ia ditangkap Polisi Capitol AS dan diserahkan kepada otoritas militer.

Sebelum menaiki tangga, Watson menyampaikan alasan tindakannya dalam konferensi pers. Ia menuduh pemerintahan Trump melanggar Konstitusi dan mengatakan tindakan militer AS terhadap sejumlah negara dilakukan tanpa persetujuan Kongres.

Menurut Watson, keputusan presiden mengerahkan kekuatan militer ke luar negeri tanpa kondisi darurat yang memenuhi standar tertentu telah mengambil alih kewenangan Kongres sebagaimana diatur dalam War Powers Clause.

Ia pun menyimpulkan bahwa Trump dan Vance harus dimakzulkan, dinyatakan bersalah, dan dicopot dari jabatan, dikutip dari Military Times, Selasa (22/9/2026).

Watson sadar tindakannya dapat menghancurkan karier militernya. Pengacaranya, Christopher Mutimer, mengatakan Watson mengetahui risiko terhadap karier dan kebebasannya. Namun, ia tetap menjalankan aksinya.

Di atas tangga Gedung Capitol, Watson berdiri dalam seragam militer selama beberapa menit sebelum polisi mendekatinya. Setelah diperintahkan menghentikan demonstrasi, ia tetap berada di lokasi hingga akhirnya ditangkap dan dibawa pergi.

Aksi di tangga Capitol bukan pertama kalinya Watson menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Trump. Sebelumnya, ia melakukan mogok makan selama 22 hari di area Gedung Capitol pada 2025. Saat itu, Watson masih menyembunyikan identitasnya dan menggunakan nama samaran "Just A. Nobody".

Ia kemudian menghubungi kelompok aktivis dan mulai terlibat lebih terbuka dalam kegiatan advokasi politik. Military Times melaporkan Watson telah menghubungi penyelenggara aksi sejak Februari 2026 untuk mempersiapkan demonstrasi.

Dalam pidatonya sebelum aksi 1 Juli, Watson menggunakan sosok "orang biasa" sebagai simbol. Ia mengatakan jika "seorang nobody seperti saya" bisa mengambil sikap untuk membela Konstitusi dan republik demokratis, orang lain juga dapat melakukan hal serupa.

Setelah ditangkap, Watson tidak berhenti menghadapi konsekuensi. Pada Agustus, Angkatan Udara AS mengonfirmasi bahwa ia dikenai dakwaan berdasarkan tiga pasal Uniform Code of Military Justice (UCMJ) . Perkembangannya, jumlah dakwaan yang dihadapinya menjadi 10 spesifikasi dari tiga pasal berbeda.

Dakwaan tersebut mencakup:

  • Article 88 — penggunaan kata-kata menghina terhadap presiden, wakil presiden, dan pejabat tertentu
  • Article 92 — pelanggaran perintah atau peraturan
  • Article 133 — perilaku yang tidak pantas bagi seorang perwira

Kasus Watson menjadi perhatian karena Article 88 relatif jarang digunakan terhadap personel militer yang mengkritik pejabat pemerintah. Persoalan utamanya bukan hanya apa yang dikatakan Watson, tetapi juga apakah kritik seorang perwira aktif terhadap presiden dapat diproses sebagai pelanggaran hukum militer.

Pada sidang pendahuluan Article 32 bulan ini, Watson memberikan pernyataan publik pertamanya sejak dikenai dakwaan. Ia mengatakan sumpahnya kepada Konstitusi menjadi alasan dirinya bertindak. Watson juga menegaskan sikapnya bukan didorong keberpihakan kepada partai tertentu.

"Saya tidak nyaman membuat orang lain merasa tidak nyaman," demikian inti pembelaan Watson, yang berpendapat bahwa ketidaknyamanan bukanlah penghinaan.

Pengacaranya berpendapat kritik politik tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai penghinaan berdasarkan Article 88. Tim pembela meminta kasus Watson diarahkan ke special court-martial (pengadilan militer khusus), bukan general court-martial yang memiliki kewenangan menangani pelanggaran lebih serius.

Mereka juga membandingkan kasus Watson dengan mantan Letnan Kolonel Marinir AS Stuart Scheller, yang pada 2021 mengkritik para pemimpin militer dan pemerintah terkait penarikan pasukan AS dari Afghanistan.

Watson adalah lulusan U.S. Air Force Academy dan telah berdinas sekitar 17 tahun. Ia merupakan perwira logistik yang sebagian besar kariernya dijalani di luar negeri. Sebelum kasus demo ini, ia bertugas di Bydgoszcz, Polandia.

Setelah aksinya di tangga Gedung Capitol, Watson dipindahkan ke Joint Base Anacostia-Bolling di Washington dan kemudian menjalani penahanan praperadilan. Pada sidang September ini, pihak pembela menyebut Watson telah menjalani 35 hari dalam isolasi hingga saat itu.

Perkara tersebut kini menunggu rekomendasi pejabat pendahuluan sebelum keputusan mengenai kelanjutan proses pengadilan militer dibuat.

Bagi Watson, konsekuensinya dapat menyentuh karier yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Namun, sejak berdiri sendirian di tangga Gedung Capitol pada 1 Juli, ia telah menunjukkan bahwa dirinya mengetahui risiko tersebut.

Dari seorang perwira yang awalnya menyebut dirinya "Just A. Nobody" , Watson kini menjadi pusat perhatian karena memilih menyuarakan seruan "Impeach, Convict, Remove" terhadap presiden yang masih menjabat dan harus menghadapi konsekuensi hukum militer atas pilihannya.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar