Kena Sanksi AS, Bagaimana Presiden Iran Pezeshkian Bisa Pulang dari PBB?
TEHERAN — Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya kembali ke Teheran setelah menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS). Kepulangannya menjadi sorotan karena sebagian besar maskapai Iran tengah menghadapi sanksi Washington yang membatasi aktivitas penerbangan internasional negara tersebut.
Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan pada Sabtu bahwa Pezeshkian bersama rombongan delegasi telah tiba di Bandara Mehrabad, Teheran. Mereka disambut Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref dan sejumlah pejabat pemerintah.
Namun, IRNA tidak mengungkap maskapai yang digunakan untuk membawa Pezeshkian dan delegasinya pulang. Nomor registrasi pesawat yang digunakan dalam perjalanan tersebut juga tidak disebutkan.
Kondisi ini menarik perhatian karena Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mempertanyakan bagaimana delegasi Iran akan kembali ke negaranya setelah menghadiri Sidang Umum PBB.
“Saya tidak yakin bagaimana perwakilan Iran di PBB akan pulang,” kata Bessent kepada Fox News pada Rabu.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika tekanan AS terhadap sektor penerbangan Iran mulai berdampak pada konektivitas internasional negara tersebut.
Pezeshkian tiba di New York pada Selasa untuk melakukan kunjungan selama lima hari. Ia dijadwalkan kembali ke Teheran pada Sabtu, ketika pembatasan penerbangan terbaru AS telah memasuki hari ketiga.
Washington sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap maskapai-maskapai Iran yang masih beroperasi pada 8 September melalui kebijakan yang disebut Departemen Keuangan AS sebagai “Operation Economic Outcast”.
Sanksi tersebut menargetkan 27 maskapai. AS juga memperingatkan perusahaan yang memberikan dukungan terhadap sektor penerbangan Iran, termasuk penyedia bahan bakar, layanan ground handling, dan penjualan tiket.
Masa penghentian aktivitas secara bertahap atau wind-down period berakhir pada Rabu, 23 September. Berakhirnya periode tersebut semakin meningkatkan tekanan terhadap industri penerbangan Iran.
Bessent mengklaim kebijakan tersebut telah menghentikan sekitar 80 hingga 90 persen penerbangan internasional Iran.
“Kami menekan Iran dengan cara yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya,” ujar Bessent.
Meski demikian, Iran belum sepenuhnya terputus dari jaringan penerbangan internasional.
Sejumlah rute memang telah dihentikan. Penerbangan menuju Azerbaijan dilaporkan berhenti beroperasi, sementara otoritas Iran menyatakan penerbangan ke Baghdad dan Muscat juga dibatalkan.
Maskapai asal Turki, Turkish Airlines, turut menghentikan penerbangan ke Iran setidaknya hingga Maret 2027.
Di tengah tekanan tersebut, Pezeshkian ternyata tidak menggunakan penerbangan penumpang Iran berjadwal reguler ketika berangkat menuju New York.
Presiden Iran itu menggunakan pesawat Airbus A340 yang dioperasikan Ashianeh, sebuah maskapai Iran yang relatif tidak dikenal.
Ashianeh tidak mengoperasikan penerbangan penumpang berjadwal dan tidak menjual tiket kepada masyarakat umum. Ketika Pezeshkian bertolak dari Teheran, maskapai tersebut juga tidak tercatat berada di bawah sanksi AS maupun Uni Eropa.
Dalam perjalanan menuju New York, pesawat Ashianeh sempat terlacak berhenti di Aljir, Aljazair. Pesawat tersebut diduga melakukan pemberhentian untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan.
Namun, hingga kini belum jelas apakah pesawat yang sama digunakan untuk membawa Pezeshkian dan delegasinya kembali ke Teheran pada Sabtu.
Data pelacakan penerbangan yang dikutip Bloomberg juga menunjukkan bahwa sejumlah pesawat Iran masih melakukan penerbangan internasional setelah batas waktu sanksi berakhir.
Sedikitnya enam penerbangan tercatat berangkat dari Iran menuju sejumlah tujuan, termasuk Bangkok, Phuket, Shanghai, dan Kabul.
Kepulangan Pezeshkian memperlihatkan bahwa meski sanksi AS memberikan tekanan besar terhadap sektor penerbangan Iran, akses udara negara tersebut belum sepenuhnya terputus dari dunia internasional.
Penggunaan pesawat khusus dalam perjalanan Pezeshkian ke New York menjadi salah satu contoh bagaimana pejabat Iran masih dapat melakukan perjalanan internasional di tengah pembatasan terhadap maskapai-maskapai negara tersebut.
Meski demikian, identitas pesawat yang membawa Pezeshkian dan delegasinya kembali ke Iran belum dikonfirmasi secara terbuka.
Pertanyaan mengenai bagaimana tepatnya rombongan Presiden Iran dapat kembali ke Teheran pun masih menyisakan tanda tanya, terutama di tengah upaya Washington memperketat tekanan terhadap sektor penerbangan Iran.