Shamsi Ali Hadapi Demonstran Separatis Papua di New York: Mereka Kejam dan Lebih Jahat dari Binatang
NEW YORK — Shamsi Ali, ulama Indonesia yang menjabat sebagai Imam dan Direktur Jamaica Muslim Center di Queens, New York, Amerika Serikat, menghadapi demonstran pro-separatis Papua setelah menyelesaikan khutbah di PBB. Dalam pertemuan di jalan tersebut, ia mempertanyakan alasan warga sipil tak berdosa ditembak mati oleh kelompok separatis di Papua.
"Kemarin setelah khutbah di PBB saya melewati seorang pandemo Papua (anti Indonesia)," tulis Shamsi Ali dalam unggahan di Instagram, Sabtu (26/9/2026).
Dalam video yang diunggah, demonstran tersebut terlihat mengibarkan bendera separatis Papua yang dikenal sebagai Bintang Kejora. Beberapa poster yang mengecam Presiden Indonesia Prabowo Subianto juga dipajang di jalan.
Shamsi Ali mengungkapkan kekesalannya terkait penembakan warga tak berdosa di Papua. Ia pun menanyakan bukti kepada demonstran tersebut.
"Kesal juga baru-baru ini seorang warga tak berdosa ditembak mati di Papua. Alasannya semua warga Indonesia melakukan fungsi multi kerja sama dengan TNI. Saya tanya bukti. Jawabannya tonton YouTube," lanjut ulama tersebut menirukan jawaban demonstran.
Dengan nada tegas, Shamsi Ali menyimpulkan: "Mereka kejam dan lebih jahat dari binatang!"
Sebagaimana diketahui, pada 15 September lalu, seorang sopir travel bernama Aris Sanda tewas ditembak Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Warga asal Toraja, Sulawesi Selatan, itu sempat membawa penumpang sebelum dibunuh.
Korban awalnya sedang membawa penumpang hingga diadang pelaku di tengah jalan.
"Berdasarkan informasi awal, rombongan kendaraan lajuran dihentikan oleh sekelompok orang bersenjata," kata Kepala Penerangan Koops TNI Habema dalam keterangan tertulisnya.
Para pelaku kemudian melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi dan penumpang. Selanjutnya, sopir dibawa dan disandera. "Setelah itu, para penumpang diperintahkan kembali menuju Wamena, sementara Aris Sanda dibawa menuju arah kawasan Danau Habema," paparnya.
Di lokasi tersebut, korban dilaporkan ditembak mati dan jenazahnya dimasukkan ke dalam mobil. TNI yang menerima laporan kemudian melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Namun, jenazah korban ditemukan dalam mobil yang sudah hangus terbakar.
Pembunuhan itu telah viral di media sosial. Dari rekaman video yang beredar, korban terlihat disandera dengan todongan senjata api laras panjang dan panah. Korban dipaksa menyampaikan dukungan untuk kemerdekaan Papua dan juga dipaksa memegang bendera Bintang Kejora. Korban diduga dieksekusi setelah kejadian itu.