BKPRMI Sulsel Gandeng Balai Rehabilitasi BNN Baddoka: Sembilan Lembaga Siap Bersinergi, MoU Segera Ditandatangani
MAKASSAR — Dewan Pengurus Wilayah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPW BKPRMI) Sulawesi Selatan memperkuat komitmen kolaborasi dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan pembinaan klien pasca rehabilitasi. Langkah itu diwujudkan melalui kunjungan silaturahim ke Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar, Selasa (15/9/2026).
Rombongan DPW BKPRMI Sulsel dipimpin Sekretaris Umum Dr. Muhammad Yusuf Ali, MT. , didampingi Direktur Wilayah Lembaga Kesehatan Masyarakat (LKM) BKPRMI Sulsel Dr. Asriadi Ali, Sp.N., M.A.P., AIFO-K., F.MIN, Wakil Sekretaris Umum Hasdar, Direktur Wilayah LPPSDM Muhammad Riswan, Direktur Wilayah LPKS Hj. Meryati Ros, S.Ag., Gr., M.H. , serta Pengurus LKM BKPRMI Irwan Hamidun, S.KM.
Kunjungan tersebut diterima langsung Kepala Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar, dr. Iman Firmansyah, S.H., M.H., Sp.KJ.

Dalam sambutannya, Iman menjelaskan bahwa Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar memiliki cakupan pelayanan yang meliputi wilayah Indonesia Timur. Balai tersebut juga terus mengembangkan berbagai program rehabilitasi dan inovasi pelayanan bagi klien.
Sejumlah program yang dikembangkan antara lain:
- Program Kareba dan Sarabba
- Inovasi Loker (Layanan Rehabilitasi Ramah Kelompok Rentan)
- Hore Bersinar (layanan kunjungan rumah bagi klien rehabilitasi kelompok rentan)
- Re-Care (Religi Pasca Rehabilitasi)
Menurut Iman, Program Kareba atau Kampus Rehabilitasi Baddoka memiliki beragam aktivitas yang dilaksanakan di dalam maupun di luar balai. Salah satunya melalui kegiatan magang di berbagai kantor dan hotel di sekitar balai sebagai bagian dari proses pembinaan dan pemulihan klien.

Sementara itu, program Re-Care (Religi Pasca Rehabilitasi) dinilai memiliki peluang besar untuk dikolaborasikan dengan BKPRMI, mengingat program tersebut melibatkan masjid dan pesantren di sekitar tempat tinggal klien.
"Program Re-Care melalui masjid dan pesantren di sekitar rumah klien sangat cocok dengan keberadaan BKPRMI dengan kegiatan-kegiatan seputar masjid," jelasnya.
Iman juga mengapresiasi keberadaan BKPRMI sebagai organisasi kepemudaan dan remaja masjid yang memiliki kemampuan untuk terjun langsung di tengah masyarakat. Ia berharap sinergi dengan BKPRMI dapat terus dikembangkan dengan merangkul berbagai organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, sosial, dan pembinaan mental.

Sekretaris Umum DPW BKPRMI Sulsel, Dr. Muhammad Yusuf Ali, MT. , mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kerja sama, kolaborasi, dan sinergi antara BKPRMI Sulsel dengan Balai Rehabilitasi BNN Baddoka. Terlebih,
BKPRMI saat ini memasuki momentum Milad ke-49, hampir setengah abad perjalanan organisasi yang terus diarahkan untuk menghadirkan program-program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Momentum Milad ke-49 ini menjadi spirit bagi kami untuk terus menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat Sulawesi Selatan, termasuk dalam pembinaan klien pasca rehabilitasi," ujar Yusuf Ali.

Ia menegaskan, BKPRMI Sulsel memiliki sejumlah lembaga yang dapat mengambil peran dalam membangun kolaborasi dengan Balai Rehabilitasi BNN Baddoka. "Setidaknya ada sembilan lembaga di BKPRMI Sulsel yang siap bersinergi dengan Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar," katanya.
Yusuf Ali juga menyoroti pentingnya strategi pencegahan penyalahgunaan narkoba melalui media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan penyadaran masyarakat.
"Banyak yang terpapar narkoba melalui media sosial. Karena itu, upaya pencegahannya juga harus dilakukan melalui media sosial," tegasnya.
Ia berharap kolaborasi yang dibangun tidak hanya berorientasi pada penanganan, tetapi juga mencakup edukasi, pencegahan, pembinaan mental, pendampingan, hingga penguatan kembali peran sosial para klien setelah menyelesaikan proses rehabilitasi.

Salah satu gagasan penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah keberlanjutan pembinaan bagi klien yang telah menyelesaikan proses rehabilitasi dan kembali ke lingkungan keluarga serta masyarakat.
BKPRMI Sulsel melihat bahwa proses pemulihan tidak berhenti ketika seorang klien meninggalkan balai rehabilitasi. Dibutuhkan lingkungan sosial yang positif agar mereka dapat kembali beraktivitas, membangun kepercayaan diri, mengembangkan potensi, dan mengambil peran konstruktif di tengah masyarakat.
Dalam konteks tersebut, masjid dan komunitas Pemuda Remaja Masjid dinilai dapat menjadi salah satu ruang pembinaan yang strategis. Klien yang telah menyelesaikan rehabilitasi nantinya dapat dilibatkan secara positif dalam berbagai program kepemudaan, sosial, keagamaan, pendidikan, dan kegiatan kemasyarakatan yang dijalankan BKPRMI.
Keterlibatan tersebut tentunya dilakukan melalui pendekatan yang inklusif, edukatif, dan sesuai dengan kondisi masing-masing individu, sehingga mereka memiliki ruang untuk berinteraksi, berkontribusi, serta membangun kembali relasi sosial yang sehat.
Direktur Wilayah LKM BKPRMI Sulsel, Dr. Asriadi Ali, mengatakan gagasan tersebut sejalan dengan penguatan program LKM yang saat ini tengah menyusun kurikulum "Masjid Sehat dan Berdampak" .
"Kita sedang menyusun kurikulum Masjid Sehat dan Berdampak. Ke depan, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang yang sehat, aman, edukatif, inklusif, dan memberikan dampak sosial bagi masyarakat," ujar Asriadi.

Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat pembinaan pasca rehabilitasi berbasis komunitas. Masjid dan Pemuda Remaja Masjid dapat mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung proses reintegrasi sosial klien setelah meninggalkan balai.
"Ketika klien sudah keluar dari balai, proses pembinaan tetap perlu dilanjutkan di tengah masyarakat. Di sinilah komunitas masjid dan Pemuda Remaja Masjid bisa mengambil peran bersama, tentu dengan pola pendampingan yang tepat dan tidak memberikan stigma," tambahnya.
Asriadi menambahkan, pihaknya akan segera menindaklanjuti hasil audiensi tersebut, termasuk rencana kerja sama formal melalui nota kesepahaman atau MoU.
"Insyaallah akan segera kita tindak lanjuti. MoU dengan Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Insyaallah akan ditandatangani dalam waktu dekat," ujarnya.
Menurutnya, ruang kolaborasi antara kedua lembaga sangat terbuka, khususnya dalam bidang konseling, rehabilitasi, pembinaan mental, serta pendampingan klien pasca rehabilitasi.
"Ke depannya, banyak hal yang bisa kita laksanakan bersama terkait dengan proses penanganan konseling dan rehabilitasi, baik di balai maupun di berbagai komunitas sesuai dengan visi dan misi kedua lembaga," jelasnya.
Usai sesi audiensi, rombongan BKPRMI Sulsel diajak berkeliling melihat berbagai fasilitas Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar. Kunjungan tersebut didampingi langsung Kepala Balai bersama sejumlah staf.
Rombongan mengunjungi sejumlah fasilitas, di antaranya asrama klien, perpustakaan, gedung olahraga, ruang pertemuan, penangkaran rusa, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.
Kunjungan ini menjadi langkah awal penguatan sinergi antara BKPRMI Sulsel dan Balai Rehabilitasi BNN Baddoka dalam menghadirkan pendekatan yang lebih luas dan berkelanjutan terutama dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba serta pembinaan dan penguatan kembali peran sosial masyarakat pasca rehabilitasi.