Membaca Makassar dari Tengah Halaman, Puisi sebagai Arsip Warga dan Katarsis Kegelisahan Kota
Banyak orang datang ke Makassar dan merasa tiba di tengah cerita yang telah lama berjalan. Mereka harus membaca kota ini dari halaman yang sudah lusuh, tanpa tahu lembar-lembar sebelumnya. Empat puluh satu naskah puisi yang terkumpul dalam Ruang Ingatan 2026 adalah upaya warga untuk menuliskan kembali halaman-halaman yang hilang itu: bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai peringatan.
Puisi-puisi ini adalah arsip warga: dokumen yang merekam apa yang tidak tercatat dalam berita pembangunan. Ketika laporan resmi merayakan gedung-gedung baru, puisi warga justru mencatat apa yang digusur oleh pondasi gedung tersebut: senyum kampung, atap rumbia, dan pandangan bebas ke laut. Reklamasi bukan hanya mengubah pasir menjadi aspal; ia merampas alasan anak-anak pesisir untuk bermimpi menjadi pelaut. Di sinilah warga memasukkan konsep songkabala (penolak bala) sebagai peringatan ekologis: keserakahan terhadap alam tidak bisa diimbangi dengan doa jika manusia sendiri yang terus mengundang petaka.
Kegelisahan warga tidak berhenti pada wajah fisik kota. Ia masuk ke dalam luka moral. Falsafah siri' na pacce (harga diri dan empati) kini sering disalahartikan menjadi kebanggaan yang beringas. Remaja yang seharusnya mewarisi nilai ini malah membawa busur di jalanan. Puisi warga tidak menghakimi; mereka menggugat dengan sedih, mengingatkan bahwa siri' bukan bahan pidato, dan pacce bukan ornamen museum.
Di lapisan yang lebih dalam, warga mencatat ketimpangan yang ditutupi oleh cahaya senja Losari. Anak-anak kecil mengais rupiah di lampu merah. Lorong-lorong sempit menyimpan perut yang lapar. Kota yang "dicintai konglomerat" ini masih menyisakan banyak warganya di pinggir, mengunyah sisa-sisa kemajuan yang tidak pernah benar-benar menyentuh mereka.
Yang paling dalam adalah kecemasan budaya. Sinrilik terkubur oleh dentuman musik elektronik. Aksara Lontarak menjadi pajangan. Baju Bodo menjadi kostum. Benteng Rotterdam menjadi latar foto. Warga takut bahwa identitas Mangkasarak akan menjadi etalase. Sesuatu yang dipajang tapi tidak lagi dihidupi.
Namun di antara semua kegelisahan itu, ada satu daya tahan yang terus berulang dalam puisi-puisi ini: sompeq, keberanian merantau dan bertahan bukan karena kemewahan, tetapi karena doa ibu yang dipikul di dada. Perantau yang datang ke Makassar, maupun warga yang meninggalkannya, sama-sama membawa kota ini dalam tubuh mereka.
Zulhijjah, PIC Lomba Cipta dan Baca Puisi Ruang Ingatan 2026, membaca fenomena ini dengan keyakinan yang melampaui logika kompetisi sastra biasa. Menurutnya, puisi-puisi yang terkumpul kemungkinan besar akan dianggap sebagai testimoni sosial yang sangat berharga. "Panitia tidak hanya melihatnya sebagai kompetisi sastra," tegasnya, "tetapi sebagai kumpulan aspirasi yang mengingatkan para pemangku kepentingan bahwa sebuah kota tidak hidup karena gedung-gedungnya, tetapi karena kenangan dan nilai manusiawi yang terjaga di dalamnya." Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi kuratorial Ruang Ingatan 2026: bahwa ingatan bukan arsip pasif, melainkan tuntutan aktif kepada kota dan mereka yang mengelolanya.
Empat puluh satu puisi ini bukan sekadar karya sastra. Mereka adalah suara-suara kecil yang, seperti kata warga sendiri, diam-diam menyangga tubuh kota. Dan kota yang baik adalah kota yang tidak tuli pada suara-suara itu.
Suara-suara itu akan berkumandang langsung di Ruang Ingatan 2026, sebuah ruang imersif, seni sebagai peristiwa ingatan, yang berlangsung di Benteng Rotterdam, Makassar. Datanglah. Bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari ingatan yang sedang berjuang untuk tidak dilupakan. Karena mungkin, di antara puisi-puisi yang ditulis oleh sesama warga kota, ada satu baris yang selama ini diam-diam berbicara tentang hidup kita sendiri.