Ruang Ingatan 2026: Ketika Warga Mengevakuasi Kota
Tiga hari yang dirancang bukan untuk nostalgia, melainkan untuk konfrontasi. Konfrontasi dengan siapa? Dengan yang pernah menjelaskan tentang kita (Arsip Resmi) berhadapan dengan pengalaman sehari-hari warga (experiantal democracy) untuk menyatakan tentang diri dan kota yang menghidupinya.
Dari 1971 hingga 1999, Makassar kehilangan namanya. Penggantian menjadi "Ujung Pandang" bukan sekadar urusan administrasi. Ia adalah intervensi kekuasaan yang menekan ingatan kultural warga. Banyak cerita yang terpaksa berpindah ke tempat yang lebih sunyi: menyelinap di percakapan dapur, tersimpan dalam benda-benda keseharian yang belajar untuk diam.
Bagi Irfan Palippui, kurator ruang peristiwa ini, luka sejarah itu tidak boleh dibiarkan menjadi sekadar catatan kaki.
"Sebuah kota tidak hanya hidup di dalam arsip resmi. Ia hidup di dalam orang-orang yang mengingatnya," ujarnya.
Yang paling mengejutkan dari Ruang Ingatan 2026 adalah pergeseran otoritas yang dirancang sejak awal. Irfan Palippui dengan tegas menolak menempatkan dirinya sebagai pemegang tunggal tafsir.
"Dalam dramaturgi Ruang Ingatan, yang membangun peristiwa ini bukanlah kami, tetapi setiap warga yang melangkahkan kakinya ke dalam benteng," katanya. "Pengunjung adalah aktor dan subjek ingatan yang sesungguhnya; merekalah yang punya gawean atas memori kota ini."
Setiap pengunjung yang datang tidak akan disuguhkan sejarah yang sudah dikemas rapi. "Kita tidak sedang menyajikan sejarah yang kaku, melainkan menyediakan lapisan-lapisan peristiwa," lanjut Irfan. "Pengunjung datang untuk mengurai tafsirnya sendiri, memilih perspektifnya, dan menjawab pertanyaan mendasar: wajah siapa yang sebenarnya kita akui sebagai wajah Makassar?"
Dari Warga, Dikembalikan kepada Warga
Di balik pengalaman imersif yang dirancang, Ahmad Wildan Noumeiru sebagai Creative Director menyebut ada satu napas utama yang menjadi filosofi seluruh produksi.
"Ruang Ingatan dirancang melalui jahitan narasi dan interpretasi yang berlapis dengan satu napas utama: semua berawal dari warga, dan pada akhirnya dikembalikan kepada warga," ujar Wildan.
Bagaimana prosesnya bekerja secara konkret, ia enggan membocorkan terlalu banyak. Yang ia tegaskan: ada satu medium di jantung Benteng Rotterdam yang akan membuat pengunjung melihat sesuatu yang tidak mereka duga.
"Layar raksasa itu bukan tontonan," katanya. "Ia adalah cermin di mana warga melihat wajah sejarahnya sendiri secara langsung."
Suara Warga yang Selama Ini Ditindih
Festival ini juga menampilkan hasil Lomba Cipta Puisi yang diikuti puluhan warga Makassar. Suara-suara sipil yang selama ini tertindih oleh narasi pembangunan. Hasrul Hendrawan yang menggawangi manajeman kegiatan, menegaskan bahwa puisi-puisi ini bukan sekadar karya kompetisi.
"Bait-bait ini bukan sekadar karya yang dilombakan. Ia adalah kesaksian. Rekaman jujur tentang apa yang dirasakan warga ketika kota mereka terus berubah tanpa pernah benar-benar meminta izin kepada mereka," ujar Hasrul.
Makassar Menunggu
Tiga hari. Satu benteng. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan hadir.
Benteng Rotterdam, 26–28 Juni 2026. Datanglah. Bukan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari ingatan yang menolak untuk dilupakan.
Ruang Ingatan 2026: Jejak Ujung Pandang, Wajah Makassar | Benteng Rotterdam, Makassar | 26–28 Juni 2026