Irfan Palippui Soroti Epistemologi Setempat dan Politik Estetika Sinema
MAKASSAR — Diskusi mengenai rekam jejak pahlawan nasional Syekh Yusuf Al-Makassari tidak seharusnya berhenti pada glorifikasi sejarah yang kaku. Melalui kacamata cultural studies, diskursus tentang sang ulama perlu didorong menjadi wacana yang membongkar patahan-patahan epistemik dalam sejarah, sekaligus mengangkat metodologi pengetahuan setempat ke ranah global tanpa kehilangan kerangka kritisnya sendiri.
Pandangan ini disampaikan akademisi kajian budaya Irfan Palippui dalam Focus Group Discussion "Dari Pengasingan ke Layar: Syekh Yusuf, Film Dokumenter, dan Diplomasi Budaya", Kamis (16/7/2026). Ia menekankan pentingnya ruang diskusi semacam ini direkam dan diarsipkan serius, bukan sekadar formalitas administratif yang menguap begitu saja.

Epistemologi Setempat, Bukan Sekadar Istilah Baru
Irfan menyoroti dominasi kerangka "Barat" dalam membaca sejarah Nusantara, dan mengajak pemikir serta pegiat sejarah berani memakai "epistemologi setempat".
"Saya tidak ingin sekadar menggunakan istilah indigenous knowledge atau local wisdom, tapi benar-benar menjadikannya 'epistemologi setempat', sebuah metodologi yang sahih untuk menyelesaikan riset atau membaca realitas kita sendiri," tegas Irfan.
Irfan sendiri menggarisbawahi bahwa klaim jaringan Global South ini baru menjadi metodologi yang sahih, bukan sekadar sikap politik, jika ditautkan langsung ke jejak konkret. Ia menyebut lintasan pengasingan Syekh Yusuf dari Batavia ke Ceylon pada 1684, lalu ke Cape Town pada 1693, tempat sang ulama menjadi salah satu peletak dasar komunitas Muslim Cape Malay, sebagai contoh sirkuit yang semestinya ditarik lebih eksplisit dalam riset-riset mendatang. Baginya, jalur pembuangan yang dipakai kekuasaan kolonial untuk membungkam ulama itu justru menyimpan bukti sirkuit intelektual dan spiritual Samudra Hindia yang berjalan di luar peta kolonial, dan pekerjaan yang belum selesai, menurut Irfan, adalah menarik tautan itu secara eksplisit, bukan berhenti pada penyebutan istilah Global South sebagai sikap.
Dua Argumen yang Perlu Dipisah: Analogi Lukisan dan Politik Menyuarakan yang Senyap
Membedah film dokumenter Syekh Yusuf sebagai teks budaya, Irfan mengapresiasi keberanian tim produksi menghadirkan wacana di luar konsensus narasi formal, termasuk penggunaan Artificial Intelligence untuk memvisualkan momen yang mustahil direkam langsung, seperti pergolakan batin Syekh Yusuf di atas kapal pengasingan.
"Sebagaimana wajah Sultan Hasanuddin yang kita yakini hari ini sebenarnya adalah hasil imajinasi seniman, kita tidak bisa lepas dari seni yang membentuk realitas keseharian kita. Pilihan-pilihan visual dalam film ini, di tengah keterbatasannya, justru berhasil menghasilkan dramatika dan politik estetika yang menawarkan sudut pandang baru," papar Irfan.
Irfan sendiri memisahkan dua argumen yang di paparan awal sempat menyatu dalam satu analogi. Argumen pertama, soal lukisan Hasanuddin, adalah argumen tentang tradisi representasi: wajah yang kita yakini hari ini adalah hasil spekulasi seniman yang bekerja dalam konvensi visual yang dikenal publik dan bisa ditelusuri otorshipnya. Argumen ini menjelaskan kenapa imajinasi selalu punya tempat dalam membentuk ingatan kolektif, tapi ia berhenti di situ, di soal rupa luar, dan tidak otomatis berlaku untuk klaim yang lebih besar seperti memvisualkan batin seseorang.
Argumen kedua, menurut Irfan, justru lebih relevan untuk memahami politik estetika film ini, dan tidak bergantung pada argumen pertama benar atau tidak. Arsip kolonial yang mencatat pengasingan Syekh Yusuf, seperti dokumen VOC, dibangun untuk kepentingan pengawasan dan administrasi kekuasaan, bukan untuk merekam kehidupan batin orang yang diasingkan. Kesenyapan itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari cara arsip kolonial bekerja: yang direkam adalah pergerakan tubuh dan status hukum seorang tahanan, bukan pergolakan batin seorang sufi. Menurut Irfan, penggunaan AI dalam film ini punya potensi menjadi politik estetika justru ketika ia tidak berpretensi merekonstruksi fakta yang hilang, melainkan menandai secara sadar bahwa inilah wilayah yang senyap dalam arsip, lalu membuat kesenyapan itu tampak dan bisa dirasakan penonton. Fungsinya bukan mengisi kekosongan sejarah dengan jawaban baru, tapi memperlihatkan bahwa kekosongan itu ada dan terstruktur, bukan alami.
Irfan menambahkan bahwa kedua argumen ini sebaiknya tidak dicampur, sebab keduanya punya syarat keberhasilan yang berbeda. Argumen lukisan gagal kalau dipakai untuk membenarkan AI sebagai rekonstruksi yang setara dengan fakta historiografis. Argumen tentang menyuarakan yang senyap justru hanya berhasil kalau film secara eksplisit menandai visualisasi AI itu sebagai gestur spekulatif, bukan temuan, sehingga penonton tahu sedang menyaksikan intervensi estetik atas kekosongan arsip, bukan rekaman ulang dari sesuatu yang benar-benar terjadi. Pertanyaan yang menurutnya masih perlu dijawab tim produksi: apakah film ini menandai batas itu dengan cukup jelas, atau justru membiarkan penonton mengira visualisasi AI itu setara dengan fakta.
Mitos, Tarekat, dan Bacaan yang Belum Selesai
Irfan menawarkan kerangka linguistik untuk memahami mitos dan tradisi lisan seputar Syekh Yusuf, termasuk kisah adu kesaktian membakar rokok, sebagai metafora budaya, upaya masyarakat setempat mendekatkan konteks rumit dengan bahasa keseharian lewat kombinasi tanda yang akrab bagi pendengarnya.
Ia juga menyoroti kompleksitas laku sufistik Syekh Yusuf, yang tidak hanya lekat dengan tarekat Khalwatiyah tapi juga memegang ijazah Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan lainnya. Sebelum masuk ke bacaan atas konsep kemengadaan Ibnu Arabi, Irfan menegaskan posisinya berbicara dari kerangka kajian budaya dan semiotik, bukan sebagai otoritas tasawuf, sehingga pembacaannya perlu didudukkan sebagai satu tafsir di antara sejumlah tafsir yang berbeda dalam kajian tasawuf, bukan pernyataan yang berlaku umum di seluruh disiplin itu.
"Beliau sangat cerdas dalam memilih mana yang digunakan untuk jalan perlawanan dan mana yang dipakai untuk berkhalwat atau "bersunyi-sunyi", sebagai jalan salik. Ia menguasai konsep-konsep dari pemikir seperti Ibnu Arabi, mampu menempatkan konsep kemengadaan tanpa harus tergelincir pada panteisme, dengan tetap berpijak teguh pada syariat," pungkas Irfan.
Irfan menambahkan bahwa bacaan ini sejalan dengan satu garis tafsir yang membela wahdat al-wujud Ibnu Arabi dari tuduhan panteisme, garis yang juga dipakai sejumlah sarjana tasawuf Nusantara untuk kasus serupa, dan ia mengakui ini bukan konsensus tunggal karena ada garis tafsir lain yang justru membaca wahdat al-wujud sebagai gerak yang mendekati panteisme. Baginya, yang lebih relevan untuk kajian budaya bukan memutuskan tafsir mana yang benar, melainkan menelusuri kenapa framing "cerdas berpindah tarekat, tetap berpijak syariat" ini yang paling sering dipakai membingkai Syekh Yusuf hari ini, dan kepentingan siapa yang terlayani oleh bingkai tersebut.
FGD ini membuka sejumlah patahan sejarah yang selama ini terabaikan, tanpa buru-buru merapikannya. Justru di situ letak kerja kajian budaya: bukan menutup celah dengan narasi yang menenangkan, tapi membiarkannya tetap jadi ruang tanya bagi riset dan produksi budaya berikutnya.









