Hubungan AS-Yordania di Ujung Tanduk: Trump Salahkan Sekutu atas Tewasnya Tiga Tentara
WASHINGTON - Ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah kembali memanas, Presiden Donald Trump melontarkan kritik pedas kepada Yordania menyusul tewasnya tiga tentara AS dalam serangan rudal dan drone Iran di wilayah kerajaan tersebut. Trump dengan tegas menyalahkan sistem pertahanan Yordania yang tidak dioperasikan oleh personel Amerika.
"Iran telah menyelundupkan sesuatu melalui wilayah Yordania," ujar Trump dalam pertemuan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih pada Selasa (21/7/2026). "Itu tidak akan terjadi jika pasukan atau personel Amerika yang bertanggung jawab. Ketika Anda membiarkan orang lain melakukan pekerjaan Anda, segalanya tidak selalu berjalan dengan baik," tegasnya.
Pernyataan pedas Trump ini muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menewaskan tentara AS dan menghancurkan sistem radar di Yordania, serta menyerang fasilitas milik perusahaan AS, Amazon, di Bahrain. IRGC juga menyebut Menteri Perang AS Pete Hegseth telah menggambarkan tentara yang tewas sebagai pahlawan sambil menyembunyikan jumlah korban sebenarnya.
Sementara itu, militer Yordania membantah keras klaim Iran. Mereka menyatakan sistem pertahanan udara mereka telah berhasil mencegat dan menembak jatuh tiga rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran pada Senin malam, tanpa menyebabkan korban jiwa atau kerusakan material.
Serangan mematikan yang terjadi pada Jumat pekan lalu ini awalnya dilaporkan menewaskan dua tentara AS dengan satu orang hilang. Namun tentara yang hilang itu akhirnya dinyatakan tewas, menjadikan total tiga korban jiwa. Kematian ini menambah panjang daftar korban AS dalam perang melawan Iran, yang kini mencapai 18 personel. Di tengah saling tuding dan klaim yang bertentangan, satu hal yang pasti: hubungan AS-Yordania sedang berada di ujung tanduk.









