Rupiah Terpeleset ke Rp17.936 per Dolar AS, Sentimen The Fed Kembali Tekan Mata Uang Garuda
JAKARTA - Mata uang Garuda kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Kamis (23/7/2026), terjun 19 poin atau 0,11% ke level Rp17.936 per dolar Amerika Serikat. Posisi ini turun dari penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.917. Tak hanya itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pun ikut tergelincir ke level Rp17.919, dibandingkan hari sebelumnya di Rp17.909.
Apa penyebabnya? Penguatan dolar AS yang kembali perkasa menjadi biang kerok utama. Pasar sedang gencar memprediksi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga tinggi, setidaknya dalam waktu dekat. Sentimen ini membuat arus dana global lebih nyaman bersarang di aset berbasis dolar, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Pelemahan ke Rp17.936 per dolar AS terutama dipengaruhi sentimen global, yakni masih kuatnya dolar AS akibat ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," jelas Tiffani Safinia, Research & Development ICDX, dalam keterangannya yang dikutip dari Antara.
Aliran Modal Asing Masih Tertahan
Pelaku pasar dinilai masih yakin bahwa bank sentral AS belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu singkat. Bahkan, ICDX mencatat bahwa hingga akhir tahun, masih ada kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga acuan lagi. Meskipun dalam rapat FOMC pekan depan The Fed diprediksi akan menahan bunga, fokus pasar tetap tertuju pada arah inflasi dan kondisi ekonomi Negeri Paman Sam.
Situasi ini membuat aliran dana global masih lebih betah mengendap di instrumen berdenominasi dolar, sehingga rupiah pun tertekan.
Sentimen Dalam Negeri Tak Banyak Membantu
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate di 5,75% dinilai sebagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Namun, menurut Tiffani, penguatan rupiah tetap terbatas karena selisih suku bunga dengan AS belum cukup menarik bagi arus modal asing untuk masuk.
"Di tengah permintaan valuta asing domestik yang masih tinggi, rupiah pun kesulitan untuk beranjak perkasa," tambahnya.
Prospek ke Depan
Ke depan, pergerakan rupiah diprediksi akan terus bergantung pada arah kebijakan moneter AS dan kondisi ekonomi global. Kombinasi antara sentimen eksternal yang masih berat dan permintaan valas yang tinggi di dalam negeri menjadi tantangan tersendiri bagi mata uang Garuda untuk segera pulih. Pasar pun menunggu dengan cermat setiap sinyal dari The Fed dan data ekonomi AS selanjutnya.









