Trump Restui Saudi Perkaya Uranium: Mengapa Dunia Khawatir dengan Pakta Nuklir Ini?
RIYADH - Dunia kembali diguncang keputusan kontroversial, Pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan siap mendukung pakta energi nuklir dengan Arab Saudi yang memungkinkan kerajaan minyak tersebut untuk memperkaya uranium dan memproses bahan bakar atom bekas. Langkah ini, yang diungkapkan oleh dua sumber kepada Reuters, berpotensi memicu kekhawatiran besar di kalangan negara-negara regional akan proliferasi senjata nuklir di Timur Tengah.
Pakta yang telah bertahun-tahun dalam pembicaraan ini akan memberi Arab Saudi akses ke teknologi AS, sementara perusahaan-perusahaan Amerika berpeluang memenangkan kontrak raksasa untuk fasilitas energi atom Saudi. Namun yang membuat para pengamat gelisah adalah fakta bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup "standar emas" yang melarang Riyadh memperkaya uranium dan memproses bahan bakar atom bekas, dua jalur potensial menuju pembuatan material hulu ledak. Pengabaian ini, seperti yang diperingatkan para kritikus, akan memicu kekhawatiran sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Israel, yang telah berulang kali menyuarakan penentangan keras terhadap program nuklir Saudi.
Sementara itu, Arab Saudi memiliki alasan kuat di balik ambisi nuklirnya. Negara pengekspor minyak terbesar di dunia ini, di bawah Visi 2030 Putra Mahkota Mohammed bin Salman, ingin mengurangi emisi karbon dan membebaskan minyak mentah untuk diekspor. Saat ini, sekitar 1,4 juta barel minyak mentah per hari digunakan untuk pembangkit listrik dalam negeri. Energi nuklir dapat menggantikan sebagian kebutuhan tersebut, termasuk untuk desalinasi air dan pendingin udara yang membutuhkan daya besar.
Namun pernyataan blak-blakan Saudi bahwa mereka akan mengikuti jejak Iran jika Teheran mengembangkan senjata nuklir, membuat kekhawatiran akan ambisi militer Riyadh sulit diabaikan. Pada Januari 2025, Saudi bahkan mengatakan akan memperkaya uranium, sebuah proses yang juga dapat digunakan sebagai bagian dari program militer untuk menciptakan bahan bakar "yellowcake" yang dapat mereka jual.
Di sisi lain, AS memiliki kepentingan strategis dan komersial. Kesepakatan ini akan menempatkan industri AS pada posisi utama untuk memenangkan kontrak pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir Saudi, serta memberikan wawasan tentang program atom kerajaan yang dapat mengurangi kekhawatiran proliferasi. Namun jika pakta ini gagal, China, Rusia, Korea Selatan, dan Prancis siap mengambil alih dengan tawaran teknologi dan pendanaan yang mungkin lebih longgar.
Pertanyaan besar tetap menggantung: akankah Washington setuju membangun fasilitas pengayaan uranium di wilayah Saudi? Akankah fasilitas tersebut dijalankan sepenuhnya oleh staf AS dalam pengaturan "kotak hitam", atau personel Saudi akan memiliki akses? Tanpa pengamanan ketat, Saudi yang memiliki cadangan bijih uranium di wilayahnya, secara teoritis dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk menghasilkan uranium yang sangat diperkaya cukup untuk bom atom.









