Air Mata dan Spekulasi Pensiun: Messi Gagal Pertahankan Gelar

Ramli Nur
Lionel Messi.

NEW JERSEY - Lionel Messi, kapten sekaligus ikon Argentina, tak kuasa menahan kesedihan ketika para pemain Spanyol melompat kegirangan mengangkat trofi Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife. Senyum mereka adalah luka baginya.

Di usianya yang ke-39, Messi telah memberikan segalanya. Delapan gol dalam tujuh pertandingan, sejumlah aksi sulap yang menghipnotis dunia, dan doa puluhan juta rakyat Argentina semuanya sirna dalam sekejap oleh gol tunggal Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Gol itu bukan sekadar mengakhiri laga, tetapi juga mengubur mimpi La Albiceleste untuk menjadi juara dunia dua kali.

Seakan takdir memiliki selera humor yang kejam, kekalahan ini terasa seperti deja vu dari 12 tahun silam. Pada final 2014 di Brasil, Argentina juga harus tumbang 0-1 oleh gol pemain pengganti Jerman, Mario Götze, di babak tambahan. Kini, cerita yang sama terulang di New Jersey: Spanyol, gol dari bangku cadangan, dan Messi lagi-lagi hanya bisa terdiam menatap trofi yang melayang dari genggamannya.

Di tengah peluit panjang yang menggema, kamera televisi menyorot wajahnya yang sangat kecewa. Messi berdiri di antara rekan-rekannya, namun sorot matanya seperti berada di ruang yang sepi, seorang raja tanpa mahkota di pesta kerajaan milik orang lain.

Kekalahan ini pun langsung memicu spekulasi yang selama ini mengintai: apakah ini akhir perjalanan Messi di Piala Dunia. Sebelum turnamen dimulai, ia sempat mengatakan bahwa edisi 2026 kemungkinan besar adalah yang terakhir. Jika pun ia nekat bertahan hingga 2030 saat turnamen digelar di Maroko, Spanyol, dan Portugal. Messi sudah berusia 42 tahun. Sebuah angka yang nyaris mustahil bagi pemain sekalibernya untuk tetap tampil di level tertinggi.

Namun, di balik genangan air mata dan duka yang menyelimuti MetLife, ada satu kebenaran yang tak terbantahkan: Messi tetap meninggalkan jejak yang tak akan pernah pudar. Ia membawa Argentina meraih kejayaan di Qatar 2022, mengembalikan kepercayaan diri sebuah bangsa, dan membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pesepak bola, ia adalah perjalanan emosional yang dijalani oleh seluruh pecinta olahraga ini.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar