Konflik Global Tekan Rupiah ke 17.917, BI Perluas Insentif

Ramli Nur

JAKARTA – Rupiah kembali terkapar di hadapan perkasa Dolar AS. Pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026), mata uang Garuda harus rela melorot 29 poin (0,16%) ke posisi Rp 17.917 per dolar, setelah sehari sebelumnya masih bertahan di Rp 17.888. Pekik pelemahan ini pun menggema di tengah pasar yang dilanda ketidakpastian global.

Meski rupiah lesu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) justru terpantau mendatar di level 17.909, menunjukkan adanya upaya stabilisasi dari Bank Indonesia di tengah badai sentimen eksternal.

Apa biang kerok pelemahan ini? Analis Ibrahim menilai, ekspektasi pasar terhadap sikap agresif The Federal Reserve (The Fed) kembali memanas. Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga pada 2026 mendatang menguat, dipicu oleh lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk. "Harga minyak yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi dan spekulasi suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," ujarnya.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utamanya. Konflik militer antara AS dan Iran yang telah memasuki hari ke-11 terus membara, sementara ancaman blokade angkatan laut Houthi Yaman di Laut Merah menambah daftar kekhawatiran. Beberapa kapal tanker minyak pun terpaksa mengubah rute, mengancam ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar dunia. "Ancaman ini muncul di saat lalu lintas maritim sudah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz. Dampaknya, biaya pengiriman dan asuransi melonjak, memperparah kekurangan pasokan," jelas Ibrahim.

Meskipun peluang The Fed menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan masih berada di angka 78%, pasar justru lebih mencermati peluang kenaikan di bulan September yang mencapai 68%. Angka ini cukup untuk membuat para pelaku pasar valas terus waspada dan memilih dolar sebagai tempat berlindung.

Di Tengah Badai, BI Bertahan dan Berinovasi

Beruntung, dari dalam negeri, Bank Indonesia bergerak cepat menjaga benteng pertahanan. Dalam keputusan terbarunya, BI memilih untuk menahan BI-Rate di level 5,75%. Sebagai langkah pendukung, suku bunga Deposit Facility dinaikkan 25 basis poin (bps) menjadi 4,75%, dan Lending Facility ikut terdongkrak 25 bps ke level 6,5%.

Namun, langkah BI tidak berhenti di kebijakan suku bunga semata. Bank Sentral juga melancarkan strategi jitu dengan memperluas kebijakan insentif guna membuka keran selebar-lebarnya bagi arus modal asing masuk ke pasar uang Indonesia. "Kami memperkuat stabilitas rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan valas, serta meningkatkan likuiditas," tegas pernyataan resmi BI. Dengan kombinasi kebijakan ini, harapan akan stabilitas rupiah tetap terjaga meskipun bayang-bayang dolar perkasa dan konflik global masih membayangi.

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar