Pertamina Patra Niaga Gandeng Boeing dan Maskapai Internasional, Siapkan Lompatan Besar SAF 2027
JAKARTA – Pertamina Patra Niaga, selaku garda terdepan energi nasional, tidak tinggal diam menghadapi target ambisius penerapan mandat Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang akan berlaku pada 2027. Bagi mereka, ini bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah lompatan besar untuk menciptakan industri penerbangan yang lebih bersih dan rendah emisi.
“Kami sudah memulai perjalanan ini sejak lima tahun lalu, jauh sebelum ramai diperbincangkan,” ujar Joko Pranoto, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, dalam acara 3rd Annual Indonesia Aero Summit (IAS) 2026 di Jakarta, Rabu (22/7/2026). Keyakinannya terasa kuat di tengah panggung diskusi industri. Menurutnya, memulai lebih awal adalah kunci, meskipun tantangan komersial masih menghadang.
Keberanian itu kini mulai berbuah. Uji coba bersama Garuda Indonesia dan Pelita Air telah sukses digelar, bahkan langkah lebih berani diambil dengan menandatangani kontrak penjualan SAF bersama maskapai internasional untuk rute penerbangan dari Soekarno-Hatta dan Bali. Namun, Joko menegaskan bahwa pengembangan SAF bukanlah pekerjaan tunggal; ia membutuhkan sebuah ekosistem utuh yang menghubungkan bahan baku, produksi, pembiayaan, pengguna, hingga kebijakan pemerintah.
Untuk itu, Pertamina Patra Niaga terus mematangkan seluruh rantai pasok. Fasilitas produksi di Cilacap sudah dalam posisi siap, dan tahun ini uji coba teknologi co-processing mulai digelar di Dumai serta Balongan. Di sisi hulu, perusahaan gencar membangun kemitraan dan sistem pengumpulan bahan baku internal agar pasokan tetap terjaga. "Harapannya, saat mandat 1 persen SAF mulai diterapkan tahun depan, Pertamina sudah benar-benar siap memenuhi kebutuhan pasar," tegas Joko.
Komitmen ini semakin kokoh dengan adanya kolaborasi strategis. Dalam rangkaian acara IAS 2026, PT Pertamina (Persero) dan Pertamina Patra Niaga resmi menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT Boeing Indonesia. Kerja sama ini menjadi pengungkit utama mencakup edukasi, pemetaan potensi bahan baku, hingga advokasi kebijakan. "Kolaborasi ini adalah akselerasi," tutup Joko optimistis, seraya menyebut dunia internasional kini mulai melirik kapabilitas Pertamina. Dengan fondasi yang kuat, transisi menuju langit Indonesia yang lebih hijau pun perlahan menjadi kenyataan.







