Menjadi Ibu di Tengah Peran Ganda: Jangan Lupakan Kesehatan Mental!
MENGABARI.COM – Menjadi ibu adalah perjalanan penuh suka cita, tetapi juga tantangan yang tak kenal lelah. Di era modern ini, banyak ibu yang harus menjalani peran ganda mengasuh anak, mengurus rumah tangga, sekaligus bekerja atau mengelola usaha. Di tengah hiruk-pikuk tanggung jawab itu, kesehatan mental sering kali menjadi korban yang terlupakan. Padahal, kesehatan mental ibu sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Morinaga Door Of Future, melalui program 'Dunia Generasi Platinum Advance Intelligence Lab', menghadirkan sebuah talkshow inspiratif bertajuk "Bertumbuh Bersama Anak, Bertumbuh Sebagai Orang Tua". Acara ini mengupas tuntas bagaimana para ibu dapat menjaga kesehatan mental di tengah tumpukan tekanan yang menghampiri.
Biarkan Emosi Masuk, Itu Wajar!
Psikolog klinis anak, Ni Ketut Desi Ariani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, membagikan pesan yang menenangkan: salah satu kunci menjaga kesehatan mental adalah dengan mengizinkan semua emosi hadir dan dirasakan.
"Wajar ketika ibu merasa, 'Duh, ini keputusan yang benar nggak, ya?' 'Ini aku terlalu menjaga anak, nggak, ya?' Banyak banget emosinya nggak cuma bahagia, tapi juga lelah, khawatir, apalagi mungkin banyak hal di luar yang mereka pikirkan," ujar Desi dalam sesi talkshow, Sabtu (25/7/2026).
Ia mengibaratkan emosi seperti tamu yang datang silih berganti. "Ketika respons emosi-emosi itu muncul dan banyak, itu nggak masalah. Aku sering mengistilahkan, kalau emosi-emosi ini seperti tamu. Nyaman atau tidak nyaman, itu harus diizinkan masuk," lanjutnya.
Jangan Bandingkan Hidup dengan Orang Lain!
Desi juga menyoroti kebiasaan banyak ibu yang masih sering membandingkan hidupnya dengan orang lain atau terlalu memikirkan pandangan dari luar. Menurutnya, kebiasaan ini justru bisa menjadi 'penyakit' bagi kesehatan mental.
"Aduh, ini ekspektasi orang-orang gimana, ya? Ekspektasi netizen gimana, ya? Ada banyak yang terjadi di alam bawah sadar kita, mungkin masalah ekonomi, mungkin ekspektasi anak harus begini, harus begitu," jelasnya.
"Tapi ketika itu terjadi, kita balik lagi, 'Oh iya, ini lagi banyak yang kita pikirin'. Apalagi sebagai orang tua, di mana kita sebelumnya juga anak dari seseorang," tambahnya.
Menjadi Orang Tua yang Hadir, Bukan Sempurna!
Pesan paling penting dari Desi adalah bahwa orang tua tidak dituntut untuk menjadi sempurna. Yang terpenting adalah menjadi orang tua yang hadir dan mampu menciptakan rasa aman bagi anak.
"Orang tua itu tidak dituntut untuk menjadi sempurna. Namun, menjadi orang tua yang hadir dan membuat situasi jadi aman," pungkasnya.
Talkshow ini menjadi pengingat berharga bagi setiap ibu: di tengah semua peran yang dijalani, jangan lupa untuk merawat diri sendiri. Karena ibu yang sehat mentalnya, akan mampu memberikan yang terbaik bagi keluarga dan dirinya sendiri.









