Laut Merah Memanas, Houthi Serang Dua Kapal Tanker Saudi di Tengah Perang AS-Iran

Ramli Nur

SANAA - Laut Merah kembali bergolak, Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengguncang jalur pelayaran internasional setelah mengumumkan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, Encelia dan Layla, pada Rabu (22/7/2026). Serangan ini memicu eskalasi baru di tengah perang yang sedang berkobar antara Amerika Serikat dan Iran.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dengan tegas menyatakan bahwa aksi ini adalah pembalasan atas pelanggaran blokade yang telah diberlakukan oleh angkatan bersenjatanya terhadap Arab Saudi. "Kami menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi karena pelanggaran mereka terhadap keputusan blokade," ujar Saree, seraya menambahkan bahwa serangan yang melibatkan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone itu berhasil memicu kebakaran di kedua kapal.

Media resmi Saudi, Saudi Press Agency (SPA), mengkonfirmasi bahwa kapal Encelia terkena serangan, namun memastikan seluruh awak kapal selamat. Meskipun demikian, SPA mengecam keras aksi tersebut sebagai "pelanggaran terhadap hukum dan konvensi internasional yang menjamin keselamatan kapal komersial dan awaknya." Sementara itu, nasib kapal Layla masih diselimuti misteri.

Dampak serangan ini segera terasa. Hampir sepuluh kapal dipaksa mengubah rute dan berbalik arah, menciptakan kekacauan di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pun menerima laporan dari kapten kapal tanker yang menjadi sasaran, yang menyebut proyektil tak dikenal telah menyebabkan kebakaran di atas kapal.

Insiden ini merupakan babak terbaru dari konflik berkepanjangan antara Houthi dan koalisi pimpinan Saudi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Kelompok yang secara resmi dikenal sebagai Gerakan Ansar Allah ini memberlakukan blokade maritim terhadap Saudi pada 20 Juli, sebagai pembalasan atas pemboman bandara Sanaa yang dikuasai Houthi oleh pemerintah Yaman, yang bertujuan menghentikan pendaratan pesawat Iran.

"Blokade ini adalah mata ganti mata," tegas Houthi, seraya menuduh Saudi memberlakukan "pengepungan yang tidak adil dan menindas" selama hampir 12 tahun terhadap pelabuhan dan bandara Yaman. Kritikus, seperti jurnalis Hussain al-Bukhaiti, menilai langkah Houthi adalah taktik untuk memaksa Riyadh mencabut embargo yang selama ini membelenggu wilayah kekuasaan mereka.

Di tengah gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz akibat perang AS-Israel melawan Iran, serangan Houthi ini mengancam jalur alternatif Saudi melalui Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. Padahal, selat sempit yang hanya selebar 29 kilometer ini merupakan jalur vital bagi ekspor minyak dunia. Penutupan Bab al-Mandeb, yang pernah berhasil dilakukan Houthi terhadap pelabuhan Israel, kini dikhawatirkan akan memblokir hingga 25 persen pasokan minyak dan gas global, menambah panjang daftar krisis energi yang melanda dunia. Laut Merah bukan lagi jalur aman, melainkan medan pertempuran baru yang mengancam stabilitas global.

 

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar