Retakan di Tulang Punggung Ukraina: Protes Massal dan Tuntutan Pecat Panglima Tertinggi di Tengah Perang Melawan Rusia

Ramli Nur

KYIV - Di tengah gempuran perang melawan Rusia, Ukraina justru diguncang badai dari dalam. Ribuan tentara aktif dan veteran turun ke jalan menekan Presiden Volodymyr Zelensky untuk memecat Panglima Tertingginya, Jenderal Oleksandr Syrskyi. Bukan serangan musuh, melainkan kemarahan internal yang kini mengancam persatuan nasional yang selama empat setengah tahun menjadi tulang punggung perlawanan Ukraina.

Kepanikan politik melanda Kyiv setelah Zelensky menggelar rapat darurat dengan pejabat keamanan pada Senin (20/7/2026), memicu spekulasi bahwa nasib sang jenderal akan segera ditentukan. Hanya sepekan sebelumnya, pemecatan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, tokoh reformis teknologi berusia 35 tahun telah membuka keretakan yang tak terbendung antara kubu pendukung perang modern berbasis drone dan robot, melawan kemapanan militer gaya Soviet yang dipimpin Syrskyi.

Massa kembali bergerak. Ini adalah gelombang protes besar kedua sejak invasi 2022, dan kali ini kemarahannya lebih tajam: rakyat serta para prajurit di garis depan menuntut Zelensky tak hanya mengembalikan visi Fedorov, tetapi juga mengakhiri kepemimpinan yang mereka sebut "mengorbankan nyawa untuk keuntungan semu". Julukan lama untuk Syrskyi pun kembali mencuat dari parit-parit berdarah Bakhmut: "Sang Jagal".

Di tengah tekanan itu, Ukraina justru mencetak keberhasilan taktis. Dalam tiga hari terakhir, serangan drone jarak jauh menghantam infrastruktur komersial di wilayah Moskow, menewaskan delapan orang di gudang Wildberries pada Sabtu, dan melukai sepuluh orang lainnya, termasuk tiga warga China, di Domodedovo pada Senin . Namun di balik kemenangan di medan perang, keretakan di komando tinggi justru semakin dalam.

Fedorov, yang dipecat, melancarkan kecaman pedas. Ia menuduh komando tinggi militer menghalangi modernisasi, menolak pendekatan berbasis data, dan justru sibuk dengan intrik politik yang memecah belah. "Pasti akan ada perubahan," ujarnya dengan nada penuh makna.

Namun, apa yang membuat situasi ini begitu mencekam adalah suara dari garis depan. Sersan Eduard, prajurit berusia 28 tahun yang bertempur di selatan, mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan banyak tentara: “Kita menghadapi musuh di depan. Kita percaya tidak ada musuh di belakang kita. Ternyata, ada.” Nama belakangnya dirahasiakan, tetapi ia mewakili lebih dari selusin tentara yang diwawancarai di sepanjang garis depan sepanjang 750 mil hampir semuanya menyuarakan dukungan bagi para demonstran dan kemarahan terhadap komando tinggi.

Andrii, komandan unit drone di timur Ukraina, menambahkan, “Hampir semua percakapan saat ini adalah tentang ini.” Meski para prajurit mengakui kecerdasan dan keahlian Syrskyi, mereka frustrasi dengan metode kuno yang mengorbankan prajurit dan lebih menghargai loyalitas daripada efektivitas tempur.

Di tengah badai kritik, Jenderal Syrskyi akhirnya angkat bicara. Dalam kolom panjang yang diterbitkan pada Senin, ia membantah tuduhan bahwa ia "tidak ingin bertempur dengan drone". Dengan nada membela diri, ia menulis, “Seseorang yang ‘tidak ingin berperang dengan drone’ tidak akan menciptakan cabang sistem tak berawak terpisah pertama di dunia.” Sekutunya di Staf Umum juga menepis kemarahan itu sebagai "pusaran manipulasi" untuk mengadu domba generasi muda progresif dengan kaum konservatif.

Namun guncangan tak berhenti di situ. Insiden pengibaran bendera di kota Kostiantynivka yang dilanda konflik yang dimaksudkan untuk membangkitkan semangat, justru berbalik menjadi mimpi buruk. Rusia mengklaim telah menangkap para tentara yang terlibat, mempermalukan Staf Umum Ukraina, dan semakin memperkuat citra Syrskyi sebagai komandan yang terjebak dalam logika propaganda serta komando kaku ala Soviet.

Kritik bahkan datang dari jajaran jenderal senior. Kolonel Sviatoslav Palamar dari Korps Azov memperingatkan, “Sejarah mengajarkan bahwa suatu negara tidak hanya kalah karena musuh eksternal, tetapi justru lebih banyak kehilangan ketika kelelahan internal dijadikan alat manipulasi politik.” Brigadir Jenderal Serhii Sobko menegaskan bahwa para pemimpin tertinggi telah menghilangkan kelincahan militer yang menyelamatkan Ukraina pada 2022, dan kini para komandan lebih sibuk memikirkan "bagaimana menghindari hukuman" daripada bertempur. Sementara itu, Mayor Jenderal Mykhailo Drapatyi yang dianggap sebagai kandidat kuat pengganti Syrskyi, dengan berani menyatakan, “Diam tidak melindungi angkatan bersenjata; itu hanya memungkinkan kesalahan menumpuk.”

Namun di balik semua gejolak, para prajurit masih menyimpan secercah optimisme. Mereka yakin tekanan publik akan memaksa reformasi. Tetapi seperti yang diungkapkan Andrii dengan bijak, “Yang utama bukanlah mengubah nama komandan. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah orang baru akan diizinkan datang dengan timnya sendiri dan diberi wewenang untuk bertindak.”

Tinggalkan Balasan

Untuk memberikan komentar, Anda harus Login terlebih dahulu.

0 Komentar

Belum ada komentar