AS Rencanakan Eskalasi Perang ke Iran: Rudal Pencegat Menipis dan Analis Peringatkan Bencana
TEHERAN - Amerika Serikat dan Iran, kini berada di ambang konflik berskala penuh, sebuah ketegangan yang oleh para pengamat disebut "di luar kendali." Laporan Washington Post pada Minggu (19/7/2026) mengungkapkan, Gedung Putih diam-diam menggenjot kekuatan udara di kawasan, sementara korban berjatuhan di kedua sisi.
Pemicunya sudah jelas: serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS menewaskan setidaknya empat tentara Amerika, yang dikonfirmasi Pentagon. Namun di balik angka itu, The New York Times merinci hantaman rudal dan drone yang berulang kali menerjang pasukan AS selama sepekan terakhir, melukai puluhan personel dan merusak sejumlah helikopter Black Hawk. Sebagai respons, Pentagon pun mengirim lebih banyak pesawat tempur ke wilayah itu, sebuah eskalasi yang oleh pejabat AS yang tak mau disebut namanya disebut sebagai "rencana perang yang lebih luas."
Tapi ada yang mengkhawatirkan: persediaan rudal pencegat dan pertahanan udara AS mulai menipis. "Kami tidak punya cukup sumber daya untuk menjaga operasi dengan aman, dan saya ragu Gedung Putih menyadari hal itu," ujar pejabat itu kepada Post. Di sisi lain, para ahli militer memperingatkan bahwa Amerika belum siap untuk invasi darat ke Iran, opsi yang tetap digantung oleh Presiden Donald Trump, tanpa mau menutup kemungkinan.
Trump, yang pekan lalu menyatakan gencatan senjata "berakhir" dan menyebut pemimpin Iran "orang sakit", bahkan mengancam akan memulihkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz. Namun di balik retorika keras, kabar dari Axios menyebut Washington telah mengirim puluhan pesawat pengisi bahan bakar ke Israel, sebagai persiapan perluasan operasi. Sementara itu, opsi serangan terhadap pembangkit listrik dan situs nuklir Iran untuk mengubur stok uranium yang diperkaya ,kini masuk meja Trump.
Para analis mulai angkat bicara dengan nada khawatir. Saeid Golkar, pakar keamanan Iran, kepada Wall Street Journal memperingatkan, "Eskalasi ini melonjak cepat dan di luar kendali. Ada risiko perang total, meski kedua pihak tak menginginkannya." CNN dalam analisisnya menilai "kemenangan menentukan AS atas Iran tampaknya masih jauh panggang dari api." Lebih tajam lagi, Sina Toosi dari Center for International Policy menyebut operasi darat di tengah terik musim panas, melawan militer Iran yang terpacu dan rakyat yang mendukung perang, "hampir pasti akan menjadi bencana bersejarah."
Di kubu Teheran, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, dengan tegas menyatakan tanggung jawab eskalasi "sepenuhnya di tangan AS." Ia mendesak negara-negara regional untuk tak memfasilitasi serangan terhadap Iran, seraya menegaskan serangan balasan Teheran adalah hak membela diri. Kementerian Luar Negeri Iran pun mengecam serangan AS sebagai "pelanggaran berat" terhadap gencatan senjata yang runtuh awal bulan ini, dan bersumpah angkatan bersenjatanya akan mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional.










