AS Kembali Hantam Iran, Rudal dan Drone Saling Balas di Teluk
TEHERAN – Amerika Serikat untuk malam ke-13 berturut-turut melancarkan serangan dahsyat ke Iran pada Kamis (23/7/2026), dan Jumat pagi pun dikejutkan dengan laporan ledakan di sejumlah kota Iran. Tak hanya itu, gangguan pelayaran di Selat Hormuz semakin parah, hanya satu kapal tanker yang berhasil melewati jalur vital itu, menandai titik terendah sejak 7 Mei.
Namun, di tengah blokade laut yang diumumkan kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi, data dari London Stock Exchange Group justru menunjukkan dua kapal tanker super China berhasil keluar dari Selat Bab al-Mandeb. Sebuah kabar yang mengejutkan di tengah ketegangan yang memuncak.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa serangan terbaru mereka berakhir pada pukul 01:00 GMT Jumat. Sasaran yang dibidik adalah pusat komando militer Iran, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, lokasi pengawasan pantai, serta kemampuan maritim Iran.
Media Iran pun kebanjiran laporan ledakan dari berbagai kota. Stasiun televisi pemerintah IRIB melaporkan ledakan di Khondab, Khorramabad, Konarak, dan Jask. Sementara itu, kantor berita Fars mengutip wakil gubernur provinsi Lorestan yang menyatakan dua orang terluka setelah serangan drone di Khorramabad.
Tak berhenti di situ, kantor berita Mehr melaporkan bahwa rudal AS menghantam kota Andimeshk dan Omidiyeh di provinsi Khuzestan—meskipun untungnya tidak ada korban jiwa. Jurnalis Al Jazeera, Tohid Assidi, juga melaporkan ledakan keras terdengar di pulau Qeshm yang terletak di Selat Hormuz.
Laporan terbaru menyebutkan serangan di kota pelabuhan Bandar Abbas melukai dua orang, sementara kantor berita Tasnim mengabarkan empat orang tewas dan lima lainnya luka-luka dalam serangan rudal AS di dekat kota Ahvaz, barat daya Iran.
Iran tak tinggal diam. Militer Iran mengklaim telah menggunakan drone untuk menargetkan tangki penyimpanan bahan bakar, gudang peralatan, dan tempat tinggal pasukan di Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Selain itu, hanggar pesawat, fasilitas perawatan, dan lokasi akomodasi di pangkalan Muwaffaq Salti/Al-Azraq di Yordania juga terkena serangan balasan.
Iran pun mengeluarkan peringatan tegas: "Tindakan apa pun yang merugikan kepentingan Iran akan merusak keamanan regional dan stabilitas ekonomi."
Di tengah eskalasi ini, Presiden AS Donald Trump semakin memanas retorikanya. Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengancam akan melancarkan serangan terbesar terhadap Iran hingga saat ini "lebih besar dari sebelumnya." Ia bahkan mengaku hampir mengambil keputusan dan semua sudah siap.
Tak hanya itu, di platform Truth Social, Trump mengancam akan menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk membayar perbaikan jika Iran menyerang kapal. Ancaman ini langsung ditanggapi tajam oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
"Menyita aset negara lain untuk membayar klaim di masa depan yang tidak terkait adalah preseden yang menghasut," tulis Araghchi di X. Ia memperingatkan, "Mereka yang merayakan atau mengambil keuntungan dari dana tersebut harus ingat: begitu pemerintah menormalisasi penyitaan, aset siapa pun tidak aman. Kekacauan yang terjadi tidak akan menyenangkan atau damai."
Dengan Selat Hormuz yang hampir lumpuh dan serangan udara yang terus berlanjut, dunia kini menahan napas. Apakah ini akan menjadi puncak konflik terbuka antara AS dan Iran, atau masih ada ruang bagi diplomasi untuk meredakan ketegangan? Yang pasti, Timur Tengah semakin berada di tepi jurang dan konsekuensinya akan terasa di seluruh dunia.










