Wagiyantoro, Buruh Serabutan asal Blora, Saksikan Putranya Dilantik Jadi Perwira TNI di Istana Merdeka
JAKARTA – Ada satu kisah yang berhasil mencuri perhatian dan menyentuh hati ribuan orang yang hadir di Upacara Kenegaraan di Istana Merdeka, Rabu (22/7/2026). Wagiyantoro, seorang buruh serabutan yang sesekali menjadi kuli bangunan. Pria asal Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, hari itu mengantarkan putranya resmi menyandang pangkat perwira TNI.
Dengan sorot mata berkaca-kaca dan senyum yang tak pernah pudar, Wagiyantoro menceritakan perjalanan panjang yang tak pernah ia bayangkan akan berujung di pelataran Istana. "Nama saya Wagiyantoro, saya berasal dari Kota Cepu, Kabupaten Blora. Ini anak saya. Saya hanya berprofesi sebagai buruh serabutan, kadang kuli bangunan. Alhamdulillah rezeki anak saya bisa jadi perwira hari ini," ujarnya dengan haru.
Wagiyantoro mengenang awal mula perjuangan putranya, Rizky. Saat masih duduk di bangku SMP, Rizky kecil sudah berani bermimpi besar. Ia mengikuti seleksi masuk SMA Taruna Nusantara, sekolah bergengsi yang menjadi pintu gerbang bagi calon-calon pemimpin bangsa. Doa keluarga pun terkabul.
"Alhamdulillah terkabul doa kami," kenang Wagiyantoro.
Namun, perjalanan tak berhenti di situ. Setelah lulus dari Taruna Nusantara, Rizky mengambil keputusan berani: melanjutkan ke Akademi Militer (Akmil). Dan sekali lagi, takdir berpihak. Rizky kembali diterima.
Di balik semua kesuksesan itu, Wagiyantoro mengungkapkan satu nama yang tak pernah lepas dari doa dan perjuangan: istrinya sosok yang ia sebut sebagai "manusia luar biasa". Sang ibulah yang tanpa lelah mendampingi, mendukung, dan menjadi benteng terakhir bagi Rizky di setiap langkah perjuangannya.
"Dan dari semua ini ada sosok satu orang yang sangat luar biasa, yaitu istri saya, ibunya. Dia adalah sosok luar biasa yang membantu perjalanan dia," katanya penuh haru.
Wagiyantoro juga tak lupa berterima kasih kepada orang-orang baik yang telah membantu keluarganya selama ini. "Semuanya juga dari bantuan orang-orang yang bertangan baik yang dikirim oleh Allah kepada saya lewat jalan mereka. Semoga hanya Allah yang bisa membalasnya," ucapnya.
Sementara itu, Rizky yang kini resmi menjadi perwira TNI menyatakan dengan tegas bahwa ia tak pernah merasa rendah diri dengan profesi ayahnya sebagai buruh serabutan. Baginya, pekerjaan orang tua adalah sesuatu yang patut dihormati dan menjadi bahan bakar semangat untuk terus melangkah lebih jauh.
"Saya bangga. Apapun, saya tidak pernah melihat pekerjaan orang tua saya apa, dan itu hanya pekerjaan orang tua saya. Selanjutnya saya akan melanjutkan perjuangan dari orang tua saya untuk mengejar kebanggaan sejauh mungkin dan untuk membanggakan kedua orang tua saya dengan kaki tangan saya sendiri," ujarnya.
Rizky juga menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada kedua orang tuanya, kepada ibunda yang tak kenal lelah dan ayahanda yang rela mengorbankan keringat demi masa depannya.
"Terima kasih kepada kedua orang tua saya karena telah membantu merawat saya dan membesarkan saya dengan penuh rasa kasih sayang, sehingga saya dapat berdiri di titik ini. Dan ke depannya saya akan senantiasa mengabdi kepada negara dan bangsa, dan tidak luput pula kepada orang tua, dan tidak luput pula saya akan tetap bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa," tuturnya.
Di akhir perbincangan, Rizky membagikan satu nasihat yang ia pegang teguh selama menjalani pendidikan sebagai taruna dan hingga kini. Pesan sederhana namun penuh makna itu menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Nasihat utama saya yang saya pegang teguh selama saya menjadi taruna dan sampai sekarang adalah tidak usah menuruti kata-kata minder ataupun menuruti kata-kata gengsi. Karena kalau kita menuruti kata-kata tersebut, maka tidak akan ada habisnya."










